- Advertisement -spot_img
Rabu, Agustus 5, 2026
BerandaNewsDiserang Caci Maki Pendukung Lawan, Mawa Sumpena Pilih Politik Santun: “Kami Balas...

Diserang Caci Maki Pendukung Lawan, Mawa Sumpena Pilih Politik Santun: “Kami Balas dengan Salam dan Senyum, Bukan Amarah”

- Advertisement -spot_img

CABANGBUNGIN — Kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Jayabakti 2026–2034 mulai memanas. Namun di tengah tensi politik yang kian tinggi, calon kepala desa Mawa Sumpena justru menunjukkan sikap berbeda: tetap menahan diri dan memilih jalur politik santun, meski menjadi sasaran ejekan dari pendukung rivalnya. Pada Senin (03/08/2026).

Peristiwa tersebut terjadi saat iring-iringan pendukung Akim, S.Ap melintas di wilayah yang dikenal sebagai basis Mawa. Alih-alih membalas dengan emosi, Mawa bersama pendukungnya justru menyambut rombongan tersebut dengan sikap terbuka—menyalami satu per satu, sebagai bentuk penghormatan dalam kontestasi demokrasi.

“Walaupun mereka berteriak-teriak dengan nada arogan dan menghina, ada yang bilang kangkung dekil lah, kangkung cebrik lah, kangkung miskin lah, kangkung dikorekin ayam. Kami tetap menyambut dan menyalami. Itu komitmen kami, politik harus santun,” ujar Ketua Tim Pemenangan Mawa kepada wartawan.

Baca Juga  Patroli Biru dan OKJ Digencarkan, Polsek Muaragembong Cegah Aksi Kriminalitas Malam Hari

Dalam kejadian itu, sejumlah pendukung rival melontarkan kata-kata bernada merendahkan, mulai dari ejekan personal hingga ungkapan yang dinilai tidak pantas. Bahkan, situasi sempat memanas ketika terjadi gesekan fisik ringan di tengah kerumunan, termasuk insiden yang melibatkan seorang warga lanjut usia.

Namun demikian, Mawa menegaskan bahwa pihaknya tidak terpancing untuk membalas tindakan tersebut. Ia menilai, politik yang sehat harus mengedepankan etika, bukan provokasi.

“Kami tidak akan balas dengan cara yang sama. Biarkan masyarakat menilai sendiri siapa yang menjaga etika dan siapa yang tidak. Politik itu harus membawa kesejukan, bukan perpecahan,” tegasnya.

Baca Juga  Dua Tahun Berlalu, Kades Sukahurip Belum Mampu Bayar Utang Rp 60 Juta untuk Kegiatan Desa

Sikap Mawa ini dinilai menjadi kontras di tengah praktik politik lokal yang kerap diwarnai gesekan antarpendukung. Bahkan, ia mengklaim bahwa langkah menyambut dan menyalami rival secara terbuka merupakan bentuk kedewasaan politik yang jarang terjadi di tingkat Pilkades, khususnya di Kabupaten Bekasi.

Di sisi lain, pengamat menilai bahwa insiden tersebut menjadi cermin penting bagi kualitas demokrasi di tingkat desa. Ketegangan yang terjadi menunjukkan bahwa fanatisme pendukung masih menjadi tantangan serius, sementara para kandidat dituntut mampu mengendalikan basis massanya.

Baca Juga  1.556 Anggota BPD Se-Kabupaten Bekasi Resmi Dilantik, Diharapkan Perkuat Fungsi Pengawasan Desa

“Ini ujian bagi semua kandidat. Bukan hanya soal menang atau kalah, tapi bagaimana menjaga demokrasi tetap beradab,” ujar seorang pengamat politik lokal.

Dengan situasi yang terus berkembang, masyarakat kini dihadapkan pada pilihan: apakah Pilkades akan diwarnai adu gagasan dan program, atau justru tenggelam dalam politik caci maki yang merusak nilai demokrasi itu sendiri.

Satu hal yang pasti, sikap Mawa Sumpena dalam insiden ini telah mengirimkan pesan tegas—bahwa kekuatan politik tidak selalu ditunjukkan dengan teriakan, melainkan bisa juga melalui kesabaran dan sikap menghargai lawan. (Red-BHI)

- Advertisement -spot_img

Tag Populer

spot_img

Berita Lainnya

- Advertisement -spot_img
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Berita Teratas

Peristiwa

- Advertisement -spot_img
error: Content is protected !!