
CABANGBUNGIN — Kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Jayabakti 2026–2034 mulai memanas. Namun di tengah tensi politik yang kian tinggi, calon kepala desa Mawa Sumpena justru menunjukkan sikap berbeda: tetap menahan diri dan memilih jalur politik santun, meski menjadi sasaran ejekan dari pendukung rivalnya. Pada Senin (03/08/2026).
Peristiwa tersebut terjadi saat iring-iringan pendukung Akim, S.Ap melintas di wilayah yang dikenal sebagai basis Mawa. Alih-alih membalas dengan emosi, Mawa bersama pendukungnya justru menyambut rombongan tersebut dengan sikap terbuka—menyalami satu per satu, sebagai bentuk penghormatan dalam kontestasi demokrasi.
“Walaupun mereka berteriak-teriak dengan nada arogan dan menghina, ada yang bilang kangkung dekil lah, kangkung cebrik lah, kangkung miskin lah, kangkung dikorekin ayam. Kami tetap menyambut dan menyalami. Itu komitmen kami, politik harus santun,” ujar Ketua Tim Pemenangan Mawa kepada wartawan.

Dalam kejadian itu, sejumlah pendukung rival melontarkan kata-kata bernada merendahkan, mulai dari ejekan personal hingga ungkapan yang dinilai tidak pantas. Bahkan, situasi sempat memanas ketika terjadi gesekan fisik ringan di tengah kerumunan, termasuk insiden yang melibatkan seorang warga lanjut usia.
Namun demikian, Mawa menegaskan bahwa pihaknya tidak terpancing untuk membalas tindakan tersebut. Ia menilai, politik yang sehat harus mengedepankan etika, bukan provokasi.
“Kami tidak akan balas dengan cara yang sama. Biarkan masyarakat menilai sendiri siapa yang menjaga etika dan siapa yang tidak. Politik itu harus membawa kesejukan, bukan perpecahan,” tegasnya.
Sikap Mawa ini dinilai menjadi kontras di tengah praktik politik lokal yang kerap diwarnai gesekan antarpendukung. Bahkan, ia mengklaim bahwa langkah menyambut dan menyalami rival secara terbuka merupakan bentuk kedewasaan politik yang jarang terjadi di tingkat Pilkades, khususnya di Kabupaten Bekasi.
Di sisi lain, pengamat menilai bahwa insiden tersebut menjadi cermin penting bagi kualitas demokrasi di tingkat desa. Ketegangan yang terjadi menunjukkan bahwa fanatisme pendukung masih menjadi tantangan serius, sementara para kandidat dituntut mampu mengendalikan basis massanya.
“Ini ujian bagi semua kandidat. Bukan hanya soal menang atau kalah, tapi bagaimana menjaga demokrasi tetap beradab,” ujar seorang pengamat politik lokal.
Dengan situasi yang terus berkembang, masyarakat kini dihadapkan pada pilihan: apakah Pilkades akan diwarnai adu gagasan dan program, atau justru tenggelam dalam politik caci maki yang merusak nilai demokrasi itu sendiri.
Satu hal yang pasti, sikap Mawa Sumpena dalam insiden ini telah mengirimkan pesan tegas—bahwa kekuatan politik tidak selalu ditunjukkan dengan teriakan, melainkan bisa juga melalui kesabaran dan sikap menghargai lawan. (Red-BHI)








